Pasar Modal
Uang sebagai subyek dan sekaligus obyek itu dapat membentuk system yang disebut systemkeuangan, yaitu perpindahan dari pihak yang memiliki kelebihan uang ke pihak yang
membutuhkan
uang yang menciptakan harta keuangan dan kewajiban keuangan,
atau dapat dikatakan perpindahan dana
dari pihak yang memiliki surplus tabungan
ke pihak yang mengalami defisit tabungan.
Pihak yang memiliki surplus tabungan menciptakan harta keuangan (financial assets) dan
pihak
yang mengalami defisit tabungan mencipta kewajiban keuangan
(financial liability) Perpindahan uang itu
dilakukan dalam suatu pasar yang disebut pasar
keuangan dan pasar modal (pasar bursa).
Pasar Keuangan (Financial Markets)
Pasar keuangan adalah tempat transaksi
keuangan yang menimbulkan harta keuangan dan
kewajiban keuangan (financial intermediary).
v PERANAN PEMERINTAH
Peranan pemerintah dalam sector keuangan terdiri dari kebijakan moneter (Bank Sentral)
dan kebijakan fiskal (perpajakan). Kebijakan bank sentral
menyangkut mengenai tingkat suku Bunga.Jika jumlah uang beredar dalam masyarakat
banyak, maka bank sentral akan menaikkan suku
bunga agar uang tersebut masuk ke dunia
perbankan. Hal itu di lakukan untuk
mengendalikan inflasi.
Di samping itu, pemerintah melaksanakan kebijakan fiskal, yaitu tingkat pajak yang
di kenakan kepada perusahaan atau badan usaha.
Jika negara membutuhkan uang untuk membiayai
administrasi pemerintah,
maka tingkat pajak tinggi.
Dampaknya adalah rumah tangga keluarga danrumah tangga
perusahaan pendapatan atau sisa laba kecil. Dengan
sisa laba kecil, perusahaan tidak mampu mengadakan
ekspansi dan kesempatan kerja sempit.
Jika persediaan uang di bank banyak, bank sentral akan menurunkan suku bunga, supaya para
pengusaha meminjam uang untuk investasi. Makin rendah suku bunga makin tinggi
investasi, makin luas kesempatan kerja, makin tinggi pendapatan
masyarakat. Kesempatan kerja juga dapat
di tentukan oleh tingkat pajak perseroan,
Jika tingkat pajak rendah, maka laba perusahaan
besa dan perusahaan dapat mengadakan
ekspansi yang dapat membuka lapangan kerja baru dan
dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.Dengan Demikian, untuk menyediakan kesempatan
kerja, pemerintah dapat
memainkan instrumen bank sentral dan departemen keuangan, bank
sentral mempunyai wewenang mengatur tingkat suku bunga, dan departemen keuangan
mempunyai wewenang mengatur tingkat pajak.
JENIS – JENIS INSTRUMEN KEUANGAN
Klasifikasi dasar instrumen keuangan meliputi
tiga kategori utama :
1. Mata Uang
2. Utang (obligasi)
3. Kepemilikan (saham)
LEMBAGA PASAR KEUANGAN
1.
Pasar Pertama ( Pasar Perdana )
Pasar primer ( primary market ),dimana
saham dan obligasi pertama kali di jual
di pasar bursa.
2.
Pasar Kedua
a.Pasar Sekunder (secondary market),
dimana saham dan obligasi tersebut kemudian
dipedagangkan seperti : komoditi di pasar,
harganya tergantung permintaan dan
penawaran.
b.Perdagangan saham di pasar sekunder ini merupakan
“ judi “ Bagi kaum kapitalis untuk
memperoleh keuntungan. Barang siapa yang tidak ahli
“ bermain “ atau “ judi “ saham jangan melibatkan diri dalam
jual -beli saham di pasar sekunder.
3. Pasar Ketiga
a. (1) Pasar Bebas Surat berharga (Over-the-Counter) = OTC (2) Pasar Bebas
(OTC) surat berharga adalah istilah yang
digunakan untuk semua kegiatan penjualan dan pembelian
Surat berharga yang tidak terjadi di bursa saham,
dimana penjual dan pembeli langsung berhubungan, atau menggunakan mediator
di luar pasar bursa
3.
Pasar Keempat
Pasar Keempat (fourth market)
merupakan transfer langsung
blok Saham antar lembaga -lembaga investasi tanpa melalui perantara
v Surat Utang Internasional
Pasar utang internasional terdiri dari tiga unsur
utama :
1.Obligasi luar negeri,yaitu surat utang
yang di terbitkan di sebuah
negara di luar negeri dan di beri nilai dalam
mata uang negara tersebut, biasanya untuk investasi
bagi pembelinya.
2.Eurobond, yaitu surat utang jangka panjang yang di terbitkan oleh negara–negara Uni
Eropa, biasanya untuk investasi bagi pembelinya.
3.
Surat Niaga Eropa (Euro –commercial paper), yaitu surat utang jangka pendek model yang di terbitkan oleh negara –negara uni eropa, biasanya untuk modal kerja
untuk penerbitnya.
v Keputusan Mendaftar Atau Tidak Mendaftar Saham
Perusahaan yang akan Go–Public harus
mendaftarkan terlebih dahulu di pasar bursa.Untuk mendaftarkan sahamnya, perusahaan harus memenuhi syarat–syarat bursa
yang menyangkut besarnya perusahaan, lamanya bisnis
yang telah dilakukan, catatan tentang
laba, jumlah saham yang beredar dan nilai pasarnya.
v Perdagangan Saham
Dalam dunia bisnis surat berharga lazim di kenal Perdagangan Marjin (marjin trading)
dan penjualan cepat (Short Selling). Kedua jenis perdagangan tersebut melalui
broker saham,
dan mungkin pihak pedagang tidak memiliki saham, namun bisa pinjam
saham dari broker.
Perdagangan Marjin (Margin Trading)Membeli saham saat ini karena diperkirakan
harganya akan naik dimasa mendatang . Misal
Tuan A ingin memberi saham 10 lembar, harga per lembar Rp 1.000 Dalam waktu satu
tahun harganya naik menjadi Rp 1.200 per lembar,komisi broker 5 %,maka laba tuan A:
|
Pembelian saham 10 saham x Rp 1000
|
Rp 10,000
|
||
|
Komisi broken 5% x Rp 10.000
|
Rp 500
|
||
|
Jumlah Investasi
|
Rp 10,500
|
||
|
Penjualan saham 10 saham x Rp 1.200
|
Rp 12,000
|
||
|
Komisi broken 5% x Rp 12.000
|
Rp (600)
|
||
|
Pendapatan
|
Rp 11,400
|
||
|
Pengeluaran Investasi
|
Rp (10,500)
|
||
|
Retur on Investment atau ROI
|
Rp 900
|
||
|
Presentase ROI = ( Rp900/Rp 10.000)x100%
|
9,00%
|
Menujal saham saat ini karena diperkirakan harganya akan turun di masa mendatang.
Misal
tuan A ingin menjual saham 10 lembar, harga per lembar Rp 1000.
dalam waktu satu tahun harganya turun menjadi Rp 800 per lembar, komisi
broken 5, maka laba Tuan A:
|
Pembelian saham 10 saham x Rp 1000
|
Rp 10,000
|
||
|
Komisi broken 5% x Rp 10.000
|
Rp (500)
|
||
|
Jumlah Penerimaan
|
Rp 9,500
|
||
|
Penjualan saham 10 saham x Rp 800
|
Rp 8,000
|
||
|
Komisi broken 5% x Rp 800
|
Rp 400
|
||
|
Jumlah Pengeluaran
|
Rp 8,400
|
||
|
Jumlah Penerimaan
|
Rp 9,500
|
||
|
Retur on Investment atau ROI
|
Rp 1,100
|
||
|
Presentase ROI = ( Rp1.100/Rp 9.500)x100%
|
11,58%
|
v Manfaat Pasar Bursa
a.
Pasar burasa surat berharga dapat memperlancar
proses investasi dengan biaya yang murah dan efisien.
b.
Pasar bursa mampu menguji nilai dari surat
berharga dengan mengadakan transaksi
jual beli kontiniu.
c.
Pasar Bursa dapat membantu mensatbilkan harga surat berharga.
d.
Pasar bursa surat berharga membantu dan memperlancar proses penjualan saham
baru.
v Peranan Manager Keuangan
Suatu perusahaan siklus uangnya diatur oleh Manajer Keuangan. Ia melakukan pilihan-
pilihan memperoleh dana ekstern, dan mengendalikan dana yang diperoleh agar
penggunaannya efektif, melalui berbagai pasar keuangan untuk memenuhi kebutuhan
modal perusahaan.
Hubungan Pasar Keuangan dengan Manajer Keuangan Perusahaan

·
Efisiensi pasar
Efisiensi dalam pasar saham menunjukan secara tidak langsung bahwa seluruh informasi
relevan yang tersedia tentang suatu saham langsung tercermin dalam harganya.
Hasil dan Resiko
RISIKO BISNIS
Dalam dunia bisnis ada dalil klasik yakni
menanggung risiko yang sekecil-kecilnya untuk
memperoleh hasil sebesar-besarnya.
UKURAN HASIL DAN RISIKO
Ukuran hasil dapat dinyatakan dengan hasil yang diharapkan (expected return) dan hasil
yang diperlukan (required return).
Hasil yang diharapkan ialah rata-rata hasil atau lazim
disebut hasil normal.
·
Sedangkan hasil yang diperlukan ialah hasil yang disesuaikan dengan :
1.
Tingkat hasil bebas risiko (suku bunga deposito Bank Sentral)
2.
Premi risiko pasar (hasil pasar bursa dikurangi hasil bebas risiko
3.
Keefesiensi beta (covariasi hasil pasar dengan hasil investasi perusahaan tertentu
dibagi varian hasil pasar)
·
Sedangkan ukuran risiko yang lazim dipakai
adalah :
1) Deviasi standar atas hasil
2) Keefisiensi variasi
3) Koefisien beta
·
DEVIASI STANDAR
Risiko investasi pada umumnya diukur dengan deviasi standar dari hasil yang diharapkan. Teknik
perhitungannya adalah :

Keterangan :
σa = deviasi standar hasil investasi proyek A
Ps = probabilitas kondisi ekonomi
Ra = hasil atas inevstasi pada proyek A
ERa = hasil diharapkan (expected return) proyek A
·
KOEFISIEN VARIASI
Untuk menilai setiap investasi pada anak perusahaan lazim digunakan koefisien variasi.
Hal itu
disebabkan karena kesulitan memilih investasi atas
dasar hasil yang diharapkan dan risiko dengan menggunakan deviasi standar.
Teknik perhitungan koefiien variasi (coefficient variation atau CV)
adalah deviasi tandar dibagi hasil yang diharapkan :

Koefisien Variasi sebagai Pengukur Resiko
|
Harta
|
Hasil diharapkan
|
Standar deviasi
|
Koefisien variasi
|
|
G
H
I
|
0,12
0,20
0,15
|
0,10
0,22
0,10
|
0,83
1,10
0,67
|
Jika standar deviasi yang digunakan sebagai ukuran risiko investasi secara individu, maka ukuran tersebut harus dinormalisasikan
dengan membagi standar deviasi dengan hasil yang diharapkan untuk mendapatkan koefisien variasi, maka investor
akan memilik proyek 1
karena koefisien variasinya paling kecil dibanding proyek G dan H.
Pemikiran ini didasarkan bahwa investor hakikatnya adalah mencari risiko yang paling
kecil, atau menghindari risiko.
KOEFISIEN BETA
Koefisien beta adalah ukuran risiko yang didasarkan hubungan hasil proyek investasi
tertentu dengan hasil pasar yang dibagi dengan
varian pasar. Teknik perhitungan itu dapat dinyatakan sebagai berikut :

Keterangan :
Βj = koefisien beta (besarnya risiko)
Cov (Rj,Rm) = kovarian hasil proyek j dengan hasil pasar
R2m = varian pasar
Ø Penyajian Laporan Keuangan
Kegiatan bisnis adalah mencari keuntungan yangdigerakkan oleh kapital. Kapital ialah
uang, barang, ilmu,
teknologi, dan kemampuna SumberDaya Manusia yang
digunakan untuk mencari
keuntungan. Kaum yang memiliki kapital untukmencari keuntungan disebut kaum kapitalis. Kaum kapitalis menggunakan Perusahaan untuk mencari keuntungan.
Agar keuntungan dapat diperoleh secara maksimal, kapital harus di kelola dengan baik.
Pengelolaan kapital dalam Perusahaan disebut Manajemen Keuangan atau Manajemen
Kapital. Kapital harus
diperoleh dengan syarat yang semurah-murahnya dan digunakan
dalam kegiatan bisnis harus efektif, efisien, produktif, dan menguntungkan. Inti pokok
dalam perolehan dan penggunaan kapital adalah keuntungan.
Dengan demikian Manajemen Keuangan dapat didefinisikan sebagai :
a.
Usaha manajemen untuk memperoleh dana (modal) dengan biaya semurah- murahnya.
b. Menggunakan dana yang efektif, efisien, dan produktif dengan tujuan akhir untuk
memperoleh keuntungan.
Dalam kegiatan Perusahaan, sumber kapital atau sumber dana diperoleh dari eksternal
dan internal. Sumber dana eksternal antara lain dari :
a.
Modal Pemilik (ekuitas atau ekuiti) yaitu setoran barang atau uang tunai, atau
segala sesuatu yang dapat dijadikan uang untuk memulai kegiatan bisnis.
b. Utang (debts), Pinjaman dari Pihak ketiga khususnya dari lembaga keuangan untuk menambah modal. Kedua jenis sumber dana eksternal itu merupakan
milik Pihak ketiga.Perusahaan yang menggunakannya harus membayar sewa. Sewa bagi modal Pimilikdisebut laba yang dibagikan. Dan sewa bagi pemberi
utang (kreditur) desebut bunga.
Laba yang di harapkan Pemilik Perusahaan dan bunga yang dibayar kepada Kreditur
merupakan biaya yang harus di tanggung Perusahaan., yang lazim disebut biaya modal
(cosf of capital).
Sumber internal berasal dari kemampuan manajemen menyisihkan laba untuk Mengembangkan perusahaan, lazim sebut laba ditahan, dan dari
kemampuan menyisihkan dan untuk mengganti peralatan yang digunakan dalam kegiatan bisnis,
lazim disebut penyusutan.
Ø Dengan demikiansumber dana internal adalah :
a. Laba ditahan (retained earning)
b. Penyusutan (depreciation amortization deplesion)
Ø Pengguanaan kapital (dana) dalam kegiatan bisnis adalah untuk :
a. Mendirikan Perusahaan
b. Membeli peralatan bisnis, yang lazim disebut harta tetap (fixed assets).
c. Untuk mengoperasikan peralatan tersebut yang lazimdisebut modal kerja (working kapital).
Jika Perusahaan memiliki kelebihan dana dapat diinvestasikan keharta keuangan
(finansial assets) pada Perusahaan lain. Dengan demikian hakikat penggunaan dana
adalah untuk :
a. Investasi pada modal kerja (working kapital/current assets) yaitu modal yang digunakan untuk kegiatan bisnis dan menggerakkan peralatan bisnis.
b. Investasi pada harta keuangan (finansial assets), dana yang ditanam disektor
surat-suratberharga atau penyertaan pada
Perusahaan lain melalui kepemilikan saham dan atau obligasi.
c. Investasi pada harta (fixed assets), peralatan untuk melakukan kegiatan bisnis.
d. Investasi pada harta tidak berwujud (intangible assets),
biaya pendirian Perusahaa, biaya
untuk memperoleh hak Pengelolaan Sumber Daya Alam,
yang akan dibebankan
keperhitungan rugi-laba secara berkala.
1. Penyajian Neraca dan Laba-Rugi
Laporan sumber dan penggunaan dana dapat di sajikan dalam bentuk Laporan Posisi Keuangan
(balance sheet) dan Laporan Perhitungan Rugi-Laba (income statemen).
Laporan posisi keuangan suatu Perusahaan terdiri dari harta (assets), kewajiban (liabilities), dan modal, atau neraca merupakan persamaan
dari :
Harta =Utang + Modal
Harta terdiri dari :
a. Harta lancar (current assets)
b. Harta Keuangan (finansial assets)
c. Harta tetap (fixed assets)
d.
Harta tidak berwujud (ingetible assets)
Kewajiban terdiri dari :
a. Utang lamcar (current liabilities)
b.
Utang jangka panjang (long term debt)
Modal terdiri dari :
a. Modal saham istimewa (prefered stock)
b. Modal saham biasa (common stock)
c. Laba ditahan (retained earning)
Perhitugan rugi-laba terdiri dari :
a. Pendapatan yaitu hasil penjualan umumnya adalah penjualan bersih dan
pendapatan lain lain (other income)
b. Beban (expenses) yang terdiri dari :
1. beban (harga) pokok penjualan (cost of goods sold)
2. beban usaha (commercial expenses) yang terdiri dari beban pemasaran (marketing expenses) dan beban administrasi (administrative expenses)
3. beban bunga (interest expenses)
4. beban pajak (corporate tax expenses), atau pajak atas laba

Kegiatan operasi Perusahaan hasilnya disajikan dalam suatu laporan yang disebut
Laporan Rugi-Laba atau income statement. Terdapat dua jenis laporan rugi-laba yaitu:
a.
Untuk Pihak luar Perusahaan yaitu untuk para Pegang Saham, lembaga keuangan, pajak, serikat buruh, dan sebagainya.
b.
Untuk pihak manajemen yaitu untuk pengambilan keputusan investasi jangka panjang dan
untuk perencanaan laba jangka pendek.
Laporan Rugi-Laba (income statement)
PT. ABC 31 Desember 2002Pendekatan Fungsi Manajemen
(functional Management approarch)Untuk Pihak Luar
(for exsternal parties), (perhitungan dalam rupiah)
PT. ABC 31 Desember 2002Pendekatan Fungsi Manajemen
(functional Management approarch)Untuk Pihak Luar
(for exsternal parties), (perhitungan dalam rupiah)
Nama Perkiraan (accounts) Rupiah Ratio
Pendapatan (sales) 10.000 100,0%
Harga pokok penjualan (cost of goods sold) 6.000 60,0%
Laba kotor (gross profit) 4.000 40,0%
Beban pemasaran (marketing expenses) 1.230 12,3%
Beban administrasi (administrasi expenses) 500 5,0%
Laba operasi (operating profit) 2.270 22,7%
Pendapatan (beban) lain-lain 230 2,3%
(other incomes (expenses)
Penghasilan sebelum bunga dan pajak 2.500 25,0%
[eaning before interest & tax (EBIT)]
Beban bunga (interest expenses) 1.040 10,4%
Penghasilan sebelum pajak 1.460 14,6%
[earning before tax (EBIT)]
Beban pajak(tax expenses 30% x 1.460) 438 4,4%
Laba bersih [earning after tax (EAT)] 1.022 10,2%
Keterangan :
a.
Perhitungan laba rugi diatas yang lazim disajikan pada berbagai laporan
keuangan secara umum, dimuat di surat-surat kabar, majalah, brosur dan sebagainy.
Garis besarnya memuat tentang pendapatan (revenue) dan beban-beban
(expenses) Perusahaan.
b.
Beban pokok penjualan atau cost of goods sold merupakan beban yang
paling tinggi, diikuti oleh beban pemasaran dan beban
administras. Ketiga beban itu
lazim disebut beban operasi (operating expenses).
c.
Beban bunga, besarnya tergantung pada besarnya pinjaman dan besarnya suku
bunga, makin tinggi perusahaan di biayai oleh
utang, makin tinggi beban bunganya, dan makin tinggi resiko keuangan Perusahaan.
d.
Beban pajak yaitu pajak atas laba tergantung pada besarnya keputusan Pemerintah tentang pajak penghasilan Perusahaan dan tergantung besarnya
laba kena pajak
Disamping manjemen Perusahaan menyajikan perhitungan rugi-laba, ia juga menyajikan
perhitungan laba ditahan (retained earning statement). Perhitungan ini
menjanjikan besarnya laba
bersih yang dibagikan kepada Pemegang Saham sebagai
Deviden dan besarnya laba.
Ø Manajemen Persediaan
Ø Pengertian Persediaan
Adalah salah satu harta (asset) perusahaan yang bersifat likuid, yang terdiri dari
persediaan bahan baku, persediaan bahan setengah jadi,
persediaan barang jadi. Persediaan merupakan bagian terbesar dari
aktiva lancar sekitar 80 % dari aktiva lancar dan
kurang lebih 30 % dari total aktiva. Modal yang
terikat dalam persediaan merupakan aktiva lancar dan modal kerja yang paling tidak likuid.
Jenis-Jenis Persediaan
1. Persediaan Bahan Baku ( Raw Materials )
Jumlahnya dipengaruhi perkiraan atau anggaran produksi, sifat musiman
produksi,
kepastian pemasok dan efisiensi jadwal
produksi. Perlu memperhatikan :
- Lead time yaitu waktu antara saat
melakukan pemesanan sampai dengan menerima pesanan tersebut.
- Jumlah pemakaian bahan baku.
- Jumlah investasi dalam persediaan bahan baku.
- Karakteristik fisik dari bahan baku.
2. Persediaan Barang Setengah Jadi
(Good in Process),
disebut juga dengan Barang dalam proses yang sangat dipengaruhi oleh lamanya
proses produksi. Kompleksitas proses produksi mempengaruhi biaya-biaya
persediaan.
3. Persediaan Barang Jadi ( Finish Good )
Jumlahnya ditentukan oleh koordinasi antara bagian produksi dengan bagian
penjualan.
Disyaratkan untuk sesuai dengan peramalan dan anggaran serta
mengikuti perkembangan
pasar dan jumlah permintaan
Harus dilakukan estimasi penjualan yang
Realistis. Bagian-Bagian yang Terkait
- Bagian Pembelanjaan
Sebagai bagian yang mengontrol efisiensi
pembelanjaan perusahaan secara keseluruhan
khususnya persediaan bahan baku.
- Bagian Pemasaran ( Marketing Division )Efektifitas penjualan akan mempengaruh
Jumlah persediaan barang jadi yang berarti juga mempengaruhi
persediaan bahan baku.
- Bagian Produksi ( Production Division )Efisiensi bahan baku dan efektifitas
barang jadi.
- Bagian Pengadaan ( Purchasing Division )Menjaga kelangsungan proses produksi.
Ø Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
1. Tingkat penjualan yang dapat dihitung melalui perputaran penjualan
2. Tingkat sifat teknis dan lamanya proses
produksi
3. Daya tahan produk akhir
Biaya Persediaan
Pengembangan teoritis untuk proses menentukan jumlah persediaan yang optimum,
investasi persediaan & waktu pemesanan kembali bahan baku.
Jenis-Jenis Biaya
1. Biaya Penyimpanan
1.1.
Biaya gudang
1.2.
Biaya asuransi
1.3.
Biaya pajak
1.4.
Biaya modal
1.5.
Biaya penyusutan & keusangan
2. Biaya Pemesanan
2.1.
Biaya memesan & set up mesin
2.2.
Biaya pengiriman
2.3.
Potongan harga
3. Biaya Persesiaan Pengaman
3.1.
Kehilangan penjualan
3.2.
Kehilangan kepercayaan pelanggan
3.3.
Gangguan jadwal produksi
Perhitungan Biaya Penyimpanan (Carrying Cost)
Biasanya sebesar 20 % s.d 25 % dari nilai persediaan.Biaya Penyimpanan = C * P * A
C = % Biaya peyimpanan terhadap persediaan
A = Jumlah unit persediaan rata-rata
= jumlah persediaan baku / pembelian pertahun
P = Harga perunit persediaan
Pembelian persediaan bahan baku dilakukan
persemester atau 2 X pertahun.
Jumlah persediaan yang dibutuhkan adalah
4.000 unit
Harga perunit bahan baku Rp. 10.000,-
Biaya penyimpanan adalah 20.000 atau
(2.000 / 10.000 = 20 %)
·
Biaya Penyimpanan
= ( 20 % ) X ( 4.000 / 2 ) ( 10.000 )
= 0,2 * 2.000 * 10.000
= 4.000.00
Biaya Penyimpanan perunit
= 4.000.000 / 4.000 = 1.000 per
unit
Perhitungan Biaya Pemesanan ( Ordering Cost )
Rumusan untuk biaya pemesanan adalah sebagai berikut :
Biaya Pemesanan = F + ( V * N )
F = Biaya tetap pemesanan
V = Biaya variabel pemesanan seperti untuk
telpon, ekspedisi dan lainnya
N = Frekwensi memesan
= Unit terpakai / Jumlah pesanan ( U / Q )
Sehingga biaya pemesanan dapat diformulasikan
sebagai berikut :
Biaya Pemesanan = F + [ V * ( U / Q )]
Contoh :
Biaya tetap untuk setiap kali pesan adalah
Rp. 6.000.000 untuk pembelian 4.000 unit
bahan baku. Biaya variabel untuk pesanan
adalah Rp. 200.000 Pemesanan semesteran atau 2 X pertahun
Q = 4.000 / 2 = 2.000
Biaya pemesanan
= 6.000.000 + [ 200.000 * ( 4.000 / 2.000 )]
= 6.000.000 + ( 200.000 * 2 ) = 6.400.000,-
Pengendalian Persediaan
Pengawasan Sistem ABC
Penggunaan sistem dengan membagi item dalam kelompok
A, B, C dan seterusnya
dengan uturan berdasar besarnya investasi Model Economic Order Quantity ( EOQ )
Economical Order Quantity adalah merupakan sejumlah barang yang dapat diperoleh
dengan biaya yang minimum atau merupakan jumlah
pesanan yang paling ekonomis.
Yang dimaksud dengan economic order quantity
menurut Sukarto Reksohardiprojo dan
Indriyo Bitisudarmo (1986 : 291) adalah :
“economic order quantity sebenarnya
merupakan volume atau jumlah pembelian yangpaling ekonomis untuk dilaksanakan pada setiap
kali pembelian”.
Menurut Sofjan Assauri (1980 : 193)
mengemukakan bahwa :“economic order quantity
adalah merupakan jumlah atau besarnya pesanan
yang memiliki Jumlah Ordering Cost dan Carrying Cost
per tahun yang paling minimal”.
·
Penerapan model economic order quantity ini
didasarkan beberapa asumsi, yaitu :
a. Harga pembelian bahan per unit konstan
b. Setiap saat kebutuhan bahan selalu tersedia
di pasar
c. Jumlah produksi yang menggunakan bahan
baku, relatif stabil sepanjang tahun
d. Biaya pemesanan setiap tahun konstan
e. Biaya pemeliharaan per tahun merupakan
prosentase tetap dari nilai rata- rata persediaan
f.Tidak ada potongan tunai atas pembelian bahan.
Kebaikan dan Kelemahan Economic Order
Quantity sebagai cara
penentuan jumlah
pembelian yang optimal.
• Kebaikan
a. economic order quantity sebagai penentu
jumlah pesanan yang paling ekonomis guna
menghindari adanya pemborosan
b. Supplay bahan baku sesuai dengan kebutuhan perusahaan
Kelemahan
a. Rumus economic order quantity tidak memperhatikan batas kerusakan
materi atau
bahan baku, padahal batas kerusakan selalu ada pada
setiap material.
b. Harga bahan baku berapapun jumlah yang dibeli dianggap sama
dengan harga per unit
Penggunaan model pemesanan yang paling
ekonomis ( EOQ ) dengan mempertimbangkan
biaya operasi & finansial.
Dengan asumsi :
- Jumlah total kebutuhan bahan baku pertahun
diketahui.
- Pesanan dapat segera dipenuhi.
- Total biaya persediaan adalah penjumlahan
dari biaya pemesanan ditambah dengan biaya
penyimpanan
-
Biaya pemesanan bersifat tetap sepanjang tahun.
- Biaya penyimpanan dalam jumlah % yang tetap sepanjang tahun.
- Pemasok tidak memberi potongan harga.
- Jumlah pemakaian bahan baku tetap untuk satu periode tertentu

V = Biaya variabel
U = Jumlah persediaan pertahun
C = % Biaya peyimpanan terhadap persediaan
P = Harga perunit persediaan
Contoh :
Dalam setahun sebuah perusahaan memerlukan 4.000 unit bahan baku dengan
biaya variabel pemesanan sebesar Rp. 200.000, dengan biaya penyimpanan
sebesar 20 % dari
biaya pemesanan sedangkan harga perunit bahan
baku adalah Rp. 10.000
Pembahasan :



Pemesanan yang ekonomis :
4.000 / 895 = 4,5 x pertahun
Total Biaya Persediaan :
T = ( C * P * A) + ( V * N ) + F
= [(20%) (10.000) (4.000 / 2) + 200.000 (4.000 / 895) + 6.000.000
= 4.000.000 + 900.000 + 6.000.000
= 10.900.000
C = % Biaya peyimpanan terhadap persediaan
P = Harga perunit persediaan
A = Rata-rata persediaan
V = Biaya variabel
N = EOQ
F = Biaya tetap untuk setiap kali pesan
Pengembangan Model EOQ
Pada perusahaan yang membuat persediaan sendiri
tergantung pada kapasitas produksi
per
hari atau yang disebut dengan R. Untuk
kapasitas per tahun dikalikan dengan 360
Contoh :
Sebuah perusahaan dengan kapasitas produksi bahan baku
perhari 20 unit. Lama produksi = Q / R
= 4.000 / ( 20 * 360 )
= 4.000 / 7.200
= 0,556
Jumlah Persediaan Maksimal
= Q/R(R–U)
= Q – ( UQ / R )
= 895 - [ ( 4.000 * 895 ) / 7.200 ]
= 895 - ( 3.580.000 / 7.200 )
= 895 - 497,2
= 397, 8 = 398 unit per pesan
Total Biaya Penyimpanan
= C*P*(Q/2)*(1–U/R)
= ( 20% ) * ( 10.000 ) * ( 4.000 / 2 ) *
[ 1 - ( 4.000 / 7.200 ) ]
= ( 0,2 ) * ( 10.000 ) * ( 2.000 ) ( 1 - 0,556 )
= ( 2.000 ) * ( 2.000 ) ( 0,444 )
= 1.776.000
Total Biaya Pemesanan
= F+[V *(U/Q)]
= 6.000.000 + [ 200.000 * ( 4.000 / 398 ) ]
= 6.000.000 + ( 200.000 * 10,05 )
= 6.000.000 + 2.010.000
= 8.010.000
Total Biaya Persediaan
= 1.776.000 + 8.010.000
= 9.786.000
Jumlah Ekonomis Pemesanan Bahan baku
:

Perhitungannya :




Titik Pemesanan Kembali ( Reorder Point )
Merupakan jumlah minimal persediaan (batas minimal) untuk melakukan pemesanan
kembali guna mencegah kehabisan bahan baku
yang menyebabkan berhentinya proses produksi.
= Waktu pemesanan ( lead time ) X Jumlah pemakaian perhari Safety Stock
Merupakan jumlah minimum dari persediaan minimal yang diperkenankan dan
merupakan
jumlah persediaan minimal untuk melakukan pembelian persediaan
kembali ( Reorder Point )
= (EOQ/2) + Biaya Persediaan Per
unit (Cu) + (safety stock X Cu)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar